Minggu, 27 November 2011

Restu, Ibu, dan Ranking Satu

Restu membolak-balik buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk kelas 4 SD-nya. Dan ini untuk ketiga kalinya ia menamatkan buku itu. Setelah ini masih ada buku latihan soal matematika yang harus diselesaikannya. Minggu depan ujian akhir semester, dan kali ini Restu harus dapat ranking satu.

Sebelumnya Restu selalu jadi yang nomor dua, setelah Dani teman sebangkunya. Tapi semester lalu ranking Restu malah turun menjadi nomor 3, setelah Dewi, anak baru pindahan dari Jakarta masuk. Restu kecewa, dan ibunya juga. Sepulang sekolah dia dihukum ibunya tidak boleh nonton televisi selama satu bulan.

Restu cuma ingin bikin bangga ibunya. Ayahnya meninggal sejak ia kecil . Kini ibunya yang harus membanting tulang menjadi pegawai negeri di kelurahan, dengan sambilan berjualan baju muslim. Semua untuk biaya sekolahnya dan hidupnya. Untuk Restu, anak satu-satu ibunya.

Kalau ayah masih hidup, mungkin ia punya adik sehingga tidak jadi satu-satunya harapan ibunya. Begitu hal yang disesalkan Restu saat ia merasa kesepian dengan kegiatan sehari-harinya.

Dan seperti itulah. Beberapa bulan ini Restu belajar mati-matian. Sudah jarang disentuhnya remote televisi, atau stik Play Station, atau hanya sekedar bermain bola di lapangan bersama teman-temannya. Sepulang sekolah dia makan lalu pergi les. Malamnya ia belajar. Begitu setiap hari, kecuali hari minggu, hari dimana ia bermain dan berenang di pantai yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya.

“Tuhan, semoga Restu bisa dapat ranking satu semester ini. Amin.” Begitu doa Restu di setiap akhir shalat.

***

Ujian semester telah selesai. Restu merasa puas dengan apa yang dikerjakannya. Terbayang sudah nilai 9 menghiasi setiap kolom raportnya. Terbayang juga senyum bangga ibunya. Liburan setelah ujian kali ini akan sangat menyenangkan.

“Tuhan, hari ini penerimaan raport. Ibu yang akan ambil raportnya. Semoga Restu bisa jadi ranking satu. Amin”

Dan ternyata Tuhan tidak mengabulkan doa Restu. Saat ibunya keluar ruangan, Restu tahu ia cuma dapat ranking 3 lagi. Saat itu juga Restu langsung berlari kencang, meninggalkan ibunya, meninggalkan raport rangking tiganya.

Pantai menjadi pemberhentiannya. Di situ, ia menangis sejadi-jadinya. Berguling-guling di pasir, biar kotor semua seragamnya. Dia benci sekolah. Dia benci ayahnya yang meninggal cepat. Tuhan jahat. Restu benci dirinya yang tidak bisa jadi ranking satu.

Sepulang dari pantai, tidak ada siapa-siapa di rumah. Restu mengganti seragamnya lalu duduk di teras sambil makan kacang. Menunggu ibunya pulang.

Di pangkuan Restu ada celengan ayam yang sudah cukup berat. Restu mau memecahkan celengannya, untuk biaya sekolahnya. Restu mau bayar sekolahnya sendiri, sampai dia bisa dapat ranking satu nanti. Sampai ibunya bangga.

Saat membuka matanya Restu sudah terbaring di tempat tidurnya. Rupanya tadi ia tertidur di teras dan digendong masuk oleh ibunya. Ibunya satu-satunya yang kini terlelap di sampingnya. Restu kemudian membelai lembut pipi ibunya, lalu tidur kembali.

0 komentar: