Selasa, 26 April 2011

Bayu dan Film Biru

Sudah satu minggu Bayu menuntut ilmu di sekolah barunya. Karena ayahnya yang seorang pegawai negeri dipindahtugaskan ke Jakarta, Bayu sekeluarga pun turut diboyong juga.

Hari Jumat itu, sepulang sekolah, Bayu duduk di halte depan sekolah untuk menunggu sang ibu menjemputnya. Namun sepertinya hari ini ibunya datang terlambat. Sudah 15 menit sejak bel pulang berbunyi, namun deru motor bebek si ibu yang selama ini digunakan untuk menjemputnya, belum juga terdengar.

Saat sedang asik melamun, Bayu dihampiri oleh Ciko, dan beberapa teman kelasnya yang lain. Oleh Ciko, Bayu diajak ke gedung olahraga yang terletak di belakang sekolah. “Yuk nonton film gulat, paling baru nih!” Begitu kata Ciko membujuknya sambil menunjukan benda persegi panjang pipih yang mereka sebut iPad.

Sebenarnya Bayu kurang tertarik menonton film, apalagi ia sekarang sedang menunggu ibunya. Namun karena masih baru di lingkungan sekolahnya, Bayu merasa harus bersosialisasi dengan teman-temannya. Akhirnya gerombolan anak kelas 3 SD itu berjalan berbondong-bondong menuju gedung olah raga di belakang sekolah.

Gedung olah raga itu tampak sepi karena memang sudah jam pulang sekolah. Ciko mulai menyalakan iPadnya dan meletakannya di lantai, sementara anak-anak lainnya duduk mengelilingi iPad tersebut.

Setelah beberapa kali menekan layar iPadnya, akhirnya film itu dimulai juga. Tampak adegan seorang perempuan dan laki-laki sedang berada di dalam ruangan kamar. Mereka berdua kemudian berciuman lalu mulai membuka bajunya.

Laki-laki dan perempuan itu kemudian mulai berpelukan. Si perempuan mengeluarkan suara mendesah yang agak berisik. Adegan selanjutnya membuat Bayu merasa mual dan pusing. Mengalihkan perhatiannya dari layar iPad, Bayu lalu memperhatikan teman-temannya. Beberapa tampak menatap dengan serius, sedang beberapa lainnya tersenyum geli.

Menyadari yang ditontonnya sama sekali bukan adegan gulat, dan merasa bersalah karena ibunya pasti kini mencarinya, Bayu meminta izin teman-temannya untuk pulang duluan. Benar saja, saat berjalan menuju halte, tampak Ibunya sudah menunggunya di depan gerbang sekolah dengan ekspresi penuh kecemasan.

Sepanjang perjalanan pulang, Bayu masih belum dapat melupakan adegan-adegan yang telah ditontonnya tadi. Begitu pula saat makan hidangan makan malam disajikan, Bayu tidak nafsu makan. Di waktu tidurnya Bayu pun bermimpi buruk ia dikejar-kejar oleh pasangan yang ditontonnya tadi.

Keesokan harinya, Bayu memberanikan diri untuk menceritakan apa yang telah dilakukannya kemarin kepada ibunya. Ibunya mendengarkan dengan seksama dengan penuh perhatian. Setelah Bayu selesai bercerita, ibunya hanya tersenyum lalu menggiring Bayu untuk mandi.

Di kamar mandi, dengan bantuan boneka Dora dan Diego serta diri Bayu sendiri, Ibunya memperkenalkan beberapa nama organ tubuh yang tidak diketahui Bayu sebelumnya. Ada yang namanya ‘Penis’, organ tubuh berbentuk panjang untuk pipis, khusus punya anak laki-laki. Sebelumnya Bayu menyebutnya dengan istilah ‘burung’.

Ternyata perempuan punya organ khusus juga untuk pipis, tapi bentuknya tidak panjang seperti punya Bayu, melainkan berbentuk lubang. Namanya pun berbeda. “Vagina” begitu ibunya menyebutnya.

Setelah memperkenalkan, Ibunya kemudian bercerita bahwa berhubungan intim, seperti yang dilakukan oleh pasangan yang telah ditonton Bayu itu, hanya boleh dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Begitu Bayu menanyakakan alasannya, ibunya menjawabnya dengan dua kata: Tanggung Jawab.

Lanjut ibunya lagi, berhubungan intim haruslah dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu diharapkan ada pada diri orang dewasa. Jadi yang harus Bayu lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab saat ia dewasa nanti.

Dan menonton orang berhubungan intim bukanlah persiapan diri menuju kedewasaan itu. Ada cara yang lebih tepat yaitu melalui bimbingan dari orang tua.
Bayu menngangguk-angguk tanda mengerti. Ia berjanji, saat dewasa nanti ia akan menjadi seorang yang bertanggung jawab.

0 komentar: