Jumat, 10 Agustus 2012

Zakia, si Rahma kecil.


Sebentar lagi lebaran tiba, topik obrolan semua orang tidak jauh-jauh dari hari bahagia itu. Termasuk percakapan Zakia dan keempat temannya sepulang dari pengajian tadi sore.

“Iya aku udah dibeliin baju gambar Spiderman sama mamaku!” Bayu yang berbadan gemuk bercerita girang.

“Nanti mamamu masak apa? Mamaku masak opor ayam!” Annisa mengusap-ngusap perutnya. Ah sebentar lagi buka puasa.

“Mamaku Soto Medan!” Seru Seruni. “Kalau mamamu Zakia?" Lanjutnya lagi.
Semua jadi terdiam. Ibu Zakia sudah tidak ada.

---

Sampai di rumah, kolak sebagai hidangan buka puasa sudah tersedia di atas meja. Mbak Inah yang bikin, atau mungkin beli. Zakia mandi lalu kemudian duduk di sofa ruang tengah, menunggu Ayah. 

Bulan puasa kali ini banyak bedanya. Sudah tidak ada lagi masakan lezat Ibu di saat sahur, ataupun berbuka. Digantikan masakan Mbak Inah yang juga lezat, tapi tetap saja rasanya beda. Tidak ada lagi yang menemani Zakia shalat teraweh di shaf belakang. Dulu ia dan Ibu suka pakai mukena kembaran. “Rahma kecil”, begitu orang-orang biasa memanggil Zakia saat membandingkannya dengan ibunya. Mereka berdua memang mirip.

Momen-momen sahur juga terasa lebih sepi. Saat membangunkan Zakia untuk sahur, Ayah cuma bilang “Zakia bangun sahur yuk...”.  Kalau Ibu biasanya membangunkannya dengan cerita-cerita lucu, membuat Zakia melek sepenuhnya karena tertawa tergelak.

Tapi Ramadhan ini Zakia bertekad untuk buka puasa penuh 30 hari. Alhamdulillah belum ada yang batal. Godaan terberat adalah saat ia tiba-tiba ingat Ibu. Untunglah selama ini Zakia berhasil menahan tangisnya, setidaknya sampai waktu buka puasa tiba. Sebentar lagi Azan berkumandang. Terdengar bunyi kunci pintu dibuka. Ayah pulang. Zakia berlari menyambut ayah yang disayanginya itu.

---

Subuhnya, Zakia dan ayah sahur dalam diam. Padahal makanan rendang RM Sederhana yang dibeli Ayah semalam sungguh lezat di lidah. Entah, tapi Zakia kangen indomie, yang dimasak Ibu terburu-buru saat mereka terlambat bangun sahur.

“Ayah, tahun ini kita mudik gak?” Zakia bertanya memecah hening.

Ayahnya berhenti mengunyah. “Kamu mau mudik kemana? Keluarga kita kan semua di sini.” Mereka lalu melanjutkan makan sahurnya kembali.

“Kita boleh mudik ke... kampung ibu?” Zakia bertanya ragu.

Ayah tidak menjawab, sampai makanan di piringnya habis. Minum air putih dua gelas, sambil menunggu Zakia menghabiskan makanannya.

Saat sahur selesai, Ayah mengajak Zakia ke ruang kerja, mengambil sebuah album foto dari dalam laci meja kerjanya. Zakia belum pernah lihat album foto yang itu.

“Sini duduk sini...” Zakia lalu menghambur ke pangkuan ayahnya.

Ayah lalu memperlihatkan foto-fotonya sewaktu muda bersama ibu. Mereka tampak kurus-kurus tenggelam dalam kaos kebesaran.

“Di terminal ini Ayah pertama kali ketemu Ibu. Saat kami sama-sama mau ke Jakarta. Ibu mau liburan, sementara Ayah pulang dari tugas kerja.”

“Terus kenalannya gimana?” Zakia bertanya penuh rasa ingin tahu.

“Yaaa... kenalan aja. Awalnya ibumu takut-takut, tapi jadi mau kenalan karena muka ayah yang malu-malu...”

Hening sejenak, sebelum ayah melanjutkan. “Ayah sudah sayang sama ibumu sejak pertama kali ketemu.”

“Aku juga sayang ibu!” Zakia tidak mau kalah. “Aku juga kangen ibu...” lanjut Zakia lagi dengan nanda suara berbeda.

Ayah mendekap Zakia lembut. “Ayah juga kangen ibu. Kangen itu tanda sayang nak. Kangen boleh, menangis juga boleh nak, tapi kalau sedih jangan.”

“Jadi, kita jadi mudik ya yah?”

Ayahnya mengangguk. Lebaran kali ini mereka akan mudik ke kampung ibunya. Ayahnya dan Zakia, si Rahma kecil.

Minggu, 27 November 2011

Restu, Ibu, dan Ranking Satu

Restu membolak-balik buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk kelas 4 SD-nya. Dan ini untuk ketiga kalinya ia menamatkan buku itu. Setelah ini masih ada buku latihan soal matematika yang harus diselesaikannya. Minggu depan ujian akhir semester, dan kali ini Restu harus dapat ranking satu.

Sebelumnya Restu selalu jadi yang nomor dua, setelah Dani teman sebangkunya. Tapi semester lalu ranking Restu malah turun menjadi nomor 3, setelah Dewi, anak baru pindahan dari Jakarta masuk. Restu kecewa, dan ibunya juga. Sepulang sekolah dia dihukum ibunya tidak boleh nonton televisi selama satu bulan.

Restu cuma ingin bikin bangga ibunya. Ayahnya meninggal sejak ia kecil . Kini ibunya yang harus membanting tulang menjadi pegawai negeri di kelurahan, dengan sambilan berjualan baju muslim. Semua untuk biaya sekolahnya dan hidupnya. Untuk Restu, anak satu-satu ibunya.

Kalau ayah masih hidup, mungkin ia punya adik sehingga tidak jadi satu-satunya harapan ibunya. Begitu hal yang disesalkan Restu saat ia merasa kesepian dengan kegiatan sehari-harinya.

Dan seperti itulah. Beberapa bulan ini Restu belajar mati-matian. Sudah jarang disentuhnya remote televisi, atau stik Play Station, atau hanya sekedar bermain bola di lapangan bersama teman-temannya. Sepulang sekolah dia makan lalu pergi les. Malamnya ia belajar. Begitu setiap hari, kecuali hari minggu, hari dimana ia bermain dan berenang di pantai yang berlokasi tidak jauh dari rumahnya.

“Tuhan, semoga Restu bisa dapat ranking satu semester ini. Amin.” Begitu doa Restu di setiap akhir shalat.

***

Ujian semester telah selesai. Restu merasa puas dengan apa yang dikerjakannya. Terbayang sudah nilai 9 menghiasi setiap kolom raportnya. Terbayang juga senyum bangga ibunya. Liburan setelah ujian kali ini akan sangat menyenangkan.

“Tuhan, hari ini penerimaan raport. Ibu yang akan ambil raportnya. Semoga Restu bisa jadi ranking satu. Amin”

Dan ternyata Tuhan tidak mengabulkan doa Restu. Saat ibunya keluar ruangan, Restu tahu ia cuma dapat ranking 3 lagi. Saat itu juga Restu langsung berlari kencang, meninggalkan ibunya, meninggalkan raport rangking tiganya.

Pantai menjadi pemberhentiannya. Di situ, ia menangis sejadi-jadinya. Berguling-guling di pasir, biar kotor semua seragamnya. Dia benci sekolah. Dia benci ayahnya yang meninggal cepat. Tuhan jahat. Restu benci dirinya yang tidak bisa jadi ranking satu.

Sepulang dari pantai, tidak ada siapa-siapa di rumah. Restu mengganti seragamnya lalu duduk di teras sambil makan kacang. Menunggu ibunya pulang.

Di pangkuan Restu ada celengan ayam yang sudah cukup berat. Restu mau memecahkan celengannya, untuk biaya sekolahnya. Restu mau bayar sekolahnya sendiri, sampai dia bisa dapat ranking satu nanti. Sampai ibunya bangga.

Saat membuka matanya Restu sudah terbaring di tempat tidurnya. Rupanya tadi ia tertidur di teras dan digendong masuk oleh ibunya. Ibunya satu-satunya yang kini terlelap di sampingnya. Restu kemudian membelai lembut pipi ibunya, lalu tidur kembali.

Selasa, 26 April 2011

Bayu dan Film Biru

Sudah satu minggu Bayu menuntut ilmu di sekolah barunya. Karena ayahnya yang seorang pegawai negeri dipindahtugaskan ke Jakarta, Bayu sekeluarga pun turut diboyong juga.

Hari Jumat itu, sepulang sekolah, Bayu duduk di halte depan sekolah untuk menunggu sang ibu menjemputnya. Namun sepertinya hari ini ibunya datang terlambat. Sudah 15 menit sejak bel pulang berbunyi, namun deru motor bebek si ibu yang selama ini digunakan untuk menjemputnya, belum juga terdengar.

Saat sedang asik melamun, Bayu dihampiri oleh Ciko, dan beberapa teman kelasnya yang lain. Oleh Ciko, Bayu diajak ke gedung olahraga yang terletak di belakang sekolah. “Yuk nonton film gulat, paling baru nih!” Begitu kata Ciko membujuknya sambil menunjukan benda persegi panjang pipih yang mereka sebut iPad.

Sebenarnya Bayu kurang tertarik menonton film, apalagi ia sekarang sedang menunggu ibunya. Namun karena masih baru di lingkungan sekolahnya, Bayu merasa harus bersosialisasi dengan teman-temannya. Akhirnya gerombolan anak kelas 3 SD itu berjalan berbondong-bondong menuju gedung olah raga di belakang sekolah.

Gedung olah raga itu tampak sepi karena memang sudah jam pulang sekolah. Ciko mulai menyalakan iPadnya dan meletakannya di lantai, sementara anak-anak lainnya duduk mengelilingi iPad tersebut.

Setelah beberapa kali menekan layar iPadnya, akhirnya film itu dimulai juga. Tampak adegan seorang perempuan dan laki-laki sedang berada di dalam ruangan kamar. Mereka berdua kemudian berciuman lalu mulai membuka bajunya.

Laki-laki dan perempuan itu kemudian mulai berpelukan. Si perempuan mengeluarkan suara mendesah yang agak berisik. Adegan selanjutnya membuat Bayu merasa mual dan pusing. Mengalihkan perhatiannya dari layar iPad, Bayu lalu memperhatikan teman-temannya. Beberapa tampak menatap dengan serius, sedang beberapa lainnya tersenyum geli.

Menyadari yang ditontonnya sama sekali bukan adegan gulat, dan merasa bersalah karena ibunya pasti kini mencarinya, Bayu meminta izin teman-temannya untuk pulang duluan. Benar saja, saat berjalan menuju halte, tampak Ibunya sudah menunggunya di depan gerbang sekolah dengan ekspresi penuh kecemasan.

Sepanjang perjalanan pulang, Bayu masih belum dapat melupakan adegan-adegan yang telah ditontonnya tadi. Begitu pula saat makan hidangan makan malam disajikan, Bayu tidak nafsu makan. Di waktu tidurnya Bayu pun bermimpi buruk ia dikejar-kejar oleh pasangan yang ditontonnya tadi.

Keesokan harinya, Bayu memberanikan diri untuk menceritakan apa yang telah dilakukannya kemarin kepada ibunya. Ibunya mendengarkan dengan seksama dengan penuh perhatian. Setelah Bayu selesai bercerita, ibunya hanya tersenyum lalu menggiring Bayu untuk mandi.

Di kamar mandi, dengan bantuan boneka Dora dan Diego serta diri Bayu sendiri, Ibunya memperkenalkan beberapa nama organ tubuh yang tidak diketahui Bayu sebelumnya. Ada yang namanya ‘Penis’, organ tubuh berbentuk panjang untuk pipis, khusus punya anak laki-laki. Sebelumnya Bayu menyebutnya dengan istilah ‘burung’.

Ternyata perempuan punya organ khusus juga untuk pipis, tapi bentuknya tidak panjang seperti punya Bayu, melainkan berbentuk lubang. Namanya pun berbeda. “Vagina” begitu ibunya menyebutnya.

Setelah memperkenalkan, Ibunya kemudian bercerita bahwa berhubungan intim, seperti yang dilakukan oleh pasangan yang telah ditonton Bayu itu, hanya boleh dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Begitu Bayu menanyakakan alasannya, ibunya menjawabnya dengan dua kata: Tanggung Jawab.

Lanjut ibunya lagi, berhubungan intim haruslah dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu diharapkan ada pada diri orang dewasa. Jadi yang harus Bayu lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab saat ia dewasa nanti.

Dan menonton orang berhubungan intim bukanlah persiapan diri menuju kedewasaan itu. Ada cara yang lebih tepat yaitu melalui bimbingan dari orang tua.
Bayu menngangguk-angguk tanda mengerti. Ia berjanji, saat dewasa nanti ia akan menjadi seorang yang bertanggung jawab.

Rabu, 17 November 2010

Kamil dan Si Kambing

Sudah dua hari seekor kambing berada di rumah Kamil. Sudah dua hari pula Kamil tidak bermain di halaman belakang, tempat kambing itu berada, karena ia tidak suka bau kambing. Si Kambing, begitu sebutan Kamil untuk kambing itu, merupakan pemberian kakek Kamil yang akan dikurbankan di hari raya Idul Adha lusa.

Malam itu, dengan mata yang dipenuhi kantuk, Kamil berjalan menuju dapur untuk mengisi tenggorokannya yang terasa haus. Tepat ketika baru saja selesai meneguk segelas air, Kamil dikejutkan suara embek kambing.

Kamil mengintip dari jendela dapurnya. Dilihatnya Si Kambing duduk sendirian dipojokkan dengan hanya diterangi cahaya lampu neon teras belakang. Suara embeknya masih mengalun walau kini tidak sekeras tadi.

Pasti Si Kambing sedang kesepian sekarang, begitu pikir Kamil. Apakah Si Kambing punya keluarga dan teman-teman? Apakah mereka semua tahu bahwa Si Kambing sedang berada di sini sekarang? Apakah mereka khawatir? Tahukah Si Kambing bahwa ia akan disembelih dua hari lagi? Apakah Si Kambing sedih? Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepala Kamil sebelum akhirnya ia memutuskan untuk tidur karena besok harus masuk sekolah.

Keesokan harinya, sepulangnya dari sekolah, Kamil langsung pulang ke rumah. Tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, ia bergegas menghapiri pintu dapur yang menghubungkan rumahnya dengan halaman belakang. Si Kambing itu masih ada di sana, sedang makan rumput halaman belakang.

Sambil menutup hidungnya, Kamil menghampiri tempat Si Kambing berada. Melihat Kamil datang mendekatinya, Si Kambing megembek pelan. Kamil kemudian mengelus kepala Si Kambing dengan tangannya yang lain. Timbul rasa kasihan di hati Kamil karena mengetahui Si Kambing akan disembelih besok, setelah shalat Ied.

Suara ibu Kamil yang menyuruhnya untuk berganti pakaian dan makan siang membuat Kamil kembali masuk ke dalam ke rumah. Setelah itu tidak terjadi interaksi apa-apa lagi antara dirinya dengan Si Kambing. Kamil menghabiskan sorenya dengan menonton acara televisi, makan malam lalu tidur.

Suara petir membangunkan Kamil dari tidurnya. Di luar hujan. Sayup-sayup terdengar suara takbir yang beradu dengan bunyi petir dan tetesan hujan. Tiba-tiba Kamil teringat akan Si Kambing di halaman belakang. Pasti Si Kambing sedang kedinginan dan kehujanan sekarang. Bergegas Kamil menuju halaman belakang.

Kamil berlari menembus hujan. Dihampirinya Si Kambing yang sedang duduk meringkuk. Perlahan dilepaskan tali pengikat Si Kambing dan membuka pintu gerbang belakang. Secara tidak langsung, Kamil ingin agar Si Kambing pergi, kembali kepada keluarga, dan mendapatkan kebebasannya.

Keesokan paginya, saat bersiap untuk melaksanakan shalat Ied, Kamil menyempatkan dirinya untuk melihat ke halaman belakang. Si Kambing masih berada di sana. Ada juga kedua orang tuanya yang sedang kebingungan mengapa pintu gerbang belakang bisa terbuka dan menduga bahwa ada pencuri yang berusaha masuk.

Seselesai shalat Ied, si kambing dibawa ke lapangan depan masjid untuk disebelih sebagai hewan kurban. Tidak tega melihat Si Kambing disembelih, Kamil hanya mampu bersembunyi di balik tubuh ayahnya.

Sempat mengintip sesaat, Kamil beradu pandang dengan Si Kambing. Ada keikhlasan yang terpancar dari mata Si Kambing. Keikhlasan yang membuat setetes air mata Kamil berlinang. Cepat disekanya air mata itu. Kini Kamil tidak bersembunyi lagi. Ia menyaksikan Si Kambing disembelih, menggelepar, dan akhirnya menutup mata. Mati.

Siangnya, Kamil beserta keluarga menyantap gulai dan sate yang dagingnya berasal si kambing. Idul Adha tahun ini telah mengajarkan Kamil tentang arti sebuah pilihan dan kelikhlasan dalam berkorban.

Minggu, 17 Oktober 2010

"Kelinci Bertelinga Pendek"

(dongeng ini berformat penulisan twitter, 140 karakter di setiap kalimat/paragrafnya)

Di sebuah hutan rimba yang jauh dari peradaban manusia, hiduplah seekor kelinci yang sebatang kara.

Setiap hari Si Kelinci melakukan kegiatan yang sama, mencari wortel di siang hari dan mencari biji-bijian di malam hari.

Suatu hari Si Kelinci merasa bosan dengan semua kegiatannya, dan juga kesendiriannya. Ia pun berpikir untuk mencoba mengembara.

Setelah mengepak semua perbekalannya, Si Kelinci pun mengucapkan selamat tinggal pada lubang pohon tempatnya tinggal selama ini.

10 hari setelah perjalanannya dimulai, Si Kelinci masih belum menemukan siapa-siapa. padahal perbekalannya mulai menipis.

Untunglah sebelum bekalnya benar-benar habis, Si Kelinci sampai di tempat yang selama ini dicarinya, perkampungan kelinci.

Si kelinci tersenyum senang. Sebentar lagi ia akan tdk akan sendirian lagi. Terbayang sudah hari2 gembira di esok hari.

Tapi kenyataan yg ditemukannya sungguh berbeda. Kelinci-kelinci di perkampungan itu justru menatapnya dengan tatapan aneh bercampur jijik.

"Kamu berbeda. telingamu pendek!" "Jangan dekat2 kami, nanti kami ikut bertelinga pendek sepertimu!" Cibir para kelinci.

"Tempatmu bukan di sini, pergilah!" Si Kelinci pun meninggalkan perkampungan itu dengan perasaan terbuang.

Si Kelinci yang diliputi kesedihan berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya ia berhenti di mulut sebuah gua....

dan jatuh tertidur Karena kelelahan. Saat terbangun keesokan harinya, betapa terkejutnya ia...

karena seekor serigala telah berdiri di depannya. Anehnya, Si Kelinci tidak merasa takut. Keputusasaan telah membunuh rasa takutnya.

"Apakah kau ingin memangsaku wahai Serigala? Gigitlah tengkukku & cabik daging-dagingku hingga kau puas" pinta Si Kelinci.

Sang Serigala hanya menatap tajam lalu membalikkan badannya. "Aku tidak berniat memangsa kelinci yg putus asa. Lagi pula aku sudah kenyang."

Sang Serigala lalu berjalan pergi. Ia tidak menyadari bahwa Si Kelinci membuntutinya dari belakang.

Hari demi hari berlalu, Sang Serigala belumlah makan apa-apa. "Inilah saat yg tepat untuk menjadi santapannya!" Batin Si Kelinci

Si kelinci pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri serigala "Kau pasti tidak ingin mati kelaparan. Makan aku!"

Sang Serigala menutup matanya. "Baru sekali kutemukan seekor hewan yang rela untuk kumangsa. Aku tidak tertarik sama sekali!"

"Tapi kau harus memangsaku!" Si Kelinci mengiba-iba dan menceritakan asal muasal keputusasaannya.

Sang Serigala membuka matanya begitu si Kelinci selesai bercerita. "Baiklah, bila kau memaksa. Temui aku lagi di tempat ini besok malam!"

Esok malamnya, Si Kelinci datang ke tempat yang dijanjikan. Serigala belumlah datang. Si Kelinci menunggunya dengan pasrah.

Satu jam telah berlalu. Saat Si Kelinci mulai berpikir bahwa Sang Serigala tidak akan datang, saat itulah ia muncul dengan mulut berlumuran darah.

"Pulanglah ke kampung kelinci itu dan janganlah merasa malu. Sudah kugigit habis telinga mereka hingga menjadi pendek sepertimu."

"Teruslah hidup & jangan pernah cari aku lagi!" Sang Serigala berlari pergi dengan cepatnya, meninggalkan si Kelinci yg cuma bisa terpana.

Si Kelinci akhirnya hidup berbahagia bersama kelinci lainnya yang kini menerima keberadaannya hingga akhir hayatnya.

Minggu, 15 Agustus 2010

Surga Rangga

Bulan Ramadhan telah tiba. Semua umat muslim di dunia menyambutnya dengan suka cita, termasuk orang-orang di komplek perumahan tempat tinggal Rangga. Berbagai kegiatan telah disiapkan oleh masjid Al-Istiqomah, satu-satunya masjid di komplek itu.

Salah satu kegiatan tersebut adalah ceramah agama untuk anak-anak setiap sore hari di masjid itu. Sebelum ceramah, terlebih dahulu anak-anak, dengan dibimbing oleh ustad Sanusi, tadarus Al Quran bersama.

Rangga adalah salah satu anak yang aktif mengikuti kegiatan ceramah dan tadarus itu. Karena kini Rangga telah duduk di bangku kelas 3 SD, ia meyakinkan dirinya untuk puasa secara penuh dan beribadah dengan total di bulan Ramadhan kali ini.

Sore itu adalah hari ketujuh bulan Ramadhan. Kegiatan ceramah & tadarus juga sudah berlangsung tujuh kali. Dengan sarung berwarna hijau dan baju koko berwarna senada, Rangga duduk di barisan paling depan. Anak-anak kini telah menyelesaikan tadarus bersama dan bersiap-siap mendengarkan ceramah.

Tema ceramah hari itu adalah tentang surga. Ustad Sanusi bercerita bahwa surga itu adalah tempat yang sangat indah, penuh pepohonan hijau serta bangunan-bangunan yang indah. Semua permintaan penghuni Surga akan dikabulkan oleh Allah, karena itu adalah balasan setimpal atas amal ibadah yang mereka kerjakan di dunia.

Di perjalanan pulang, Rangga membahas ceramah tentang surga tadi dengan sahabatnya, Seno. “Kalau masuk surga nanti, aku ingin punya sayap sehingga aku dapat terbang dan melihat seluruh isi surga!” Seru Rangga berapi-api sambil membentangkan tangannya.

“Kalau aku mau punya pesawat jet saja. Sayapmu pasti kalah dengan jetku!” Timpal Seno tidak mau kalah sambil ikut membentangkan tangannya.

“Ah tidak mungkin, ayo coba buktikan sekarang, siapa yang lebih cepat!” Rangga mulai berlari, diikuti oleh Seno. Kedua anak itu kini tampak berkejar-kejaran dengan tangan terbentang, seakan mereka sedang terbang di ketinggian surga.

Keesokan harinya, matahari bersinar dengan terik. Rangga sampai di rumah dengan peluh bercucuran dari seluruh tubuhnya. Ia ingin sekali minum, tapi itu tentunya akan membatalkan puasanya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendinginkan diri dengan kipas angin di kamarnya.

Saat melewati dapur, Rangga melihat ibunya sedang minum segelas air. Rangga terpekik kaget, “Mama kok gak puasa?”

Hampir saja ibu tersedak air karena kaget saat mendengar pekikan Rangga. Ibu lalu meletakan gelas dan menghampiri Rangga. “Ibu sedang menstruasi. Setiap bulan sekali, seorang wanita dewasa menstruasi.” Ibu menjelaskan sambil membelai kepala Rangga.

“Saat wanita menstruasi, ia tidak boleh berpuasa. Tapi ia harus menggantinya di hari yang lain, saat ia sudah tidak menstruasi” lanjut ibu.

Rangga hanya diam. Suatu saat kalau ia masuk surga nanti, ia juga ingin menstruasi, sehingga ia tidak perlu berpuasa. Ia dapat menggantinya di hari lain saat dirinya cukup kuat. Begitu pikir Rangga.

Malamnya, Rangga bertengkar dengan adiknya, Nera. Penyebabnya adalah karena Nera ingin bermain game Barbie di Play Station, sedangkan Rangga ingin main game lainnya. Nera menangis, Rangga akhirnya disuruh mengalah. Rangga langsung menuju kamarnya dengan perasaan kesal.

Kalau aku masuk surga nanti, aku mau punya Play Station sendiri dan TV sendiri. Aku ingin punya kamar bermain sendiri agar aku dapat bermain sepuasku tanpa diganggu oleh Nera. Batin Rangga.

Perasaan kesal Rangga akhirnya memudar karena kini ia asik menuliskan benda apa saja yang akan dimintanya saat ia masuk surga kelak. Satu halaman sudah terisi berbagai keinginannya, mulai dari mainan Gundam terbaru, sepatu bola, hingga es krim dekat rumah nenek yang sangat lezat.

Keesokan sorenya, Rangga tampak berlari-lari kecil. Rupanya karena ketiduran, ia jadi terlambat mengikuti kegiatan tadarus dan ceramah. Syukurlah saat ia sampai, kegiatan tadarus baru akan dimulai. Rangga langsung mengambil posisi duduk di samping Seno.

Hari itu, tidak seperti biasanya, Seno tampak murung dan tertunduk lesu. Ceramah jenaka Ustad Sanusi, yang membahas tentang bagaimana cara bercanda yang baik dalam Islam, bahkan tidak membuat segores senyum di bibir Seno. Rangga yakin pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya yang satu ini.

Di perjalanan pulang, Rangga menghampiri Seno yang sengaja jalan berlambat-lambat. Rangga menanyakan mengapa Seno muram hari ini. Awalnya Seno tampak ragu untuk bercerita, namun akhirnya ia menceritakan penyebab kemurungannya.

“Kemarin aku membaca sebuah buku dari perpustakaan sekolah. Di buku itu dikatakan bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Aku sedih. Aku tidak akan mungkin masuk surga. Aku kan sudah tidak punya ibu semenjak aku lahir” Seno menundukkan wajahnya. Setetes air mata jatuh di pipi kirinya.

Ibu Seno memang telah meninggal saat melahirkannya. Kini ia bersama kedua kakaknya diasuh oleh neneknya. Ayah Seno sendiri bekerja di luar kota. Setiap akhir pekan, ayah Seno pulang ke rumah.

Rangga merangkul bahu sahabatnya itu, dan kemudian berkata, “kamu pasti lupa tentang ceramah ustad Sanusi kemarin dulu. Saat di surga, kita dapat meminta apa saja.”

“Mungkin yang harus kita lakukan sekarang adalah beribadah lebih giat lagi. Kalaupun suatu saat kamu ternyata memang tidak masuk surga, kan ada aku yang akan meminta Allah agar membiarkanmu masuk surga.” Lanjut Rangga.

Seno kini mulai tersenyum. “Iya, kupikir kita memang harus beribadah lebih giat lagi. Aku akan terus mendoakan ibuku, karena ia juga harus masuk surga bersamaku. Begitu juga kakak, nenek dan ayahku.”

Di dalam hatinya, Rangga juga berjanji untuk melakukan hal yang sama. Beribadah lebih giat, dan terus mendoakan orang-orang yang dicintainya agar mereka dapat berkumpul bersama di surga.

“Nanti, di surga, kita juga harus tinggal bersebelahan ya, agar kita bisa terus bermain bersama.”

Kedua anak itu lalu tertawa gembira. Semoga mereka akan tetap mengingat dan melaksanakan janjinya itu saat dewasa nanti.

Shampo Kakak

Di suatu siang yang hangat, Rizka duduk sendiri di ruang keluarga sambil bermain boneka. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Kedua orang tua Rizka pergi mengunjungi kerabat, sedangkan kak Citra, kakak perempuannya, sedang mengikuti kegiatan tari di SMA-nya. Alhasil, hanya mbok Minah yang menemaninya di rumah.

Saat program kartun kesayangannya telah habis ditayangkan. Rizka tetap membiarkan televisi menyala sambil terus bermain boneka. Tiba-tiba sebuah lagu dari iklan yang diputar di televisi mengalihkan perhatian Rizka dari permainannya. Rizka lekas menoleh ke arah televisi dan mulai menonton iklan itu dengan tatapan kagum.

Iklan itu bercerita tentang seorang perempuan muda cantik dengan rambut hitam panjang dan lebat yang terurai indah. Perempuan itu selalu menjadi pusat perhatian dimana pun ia berada. Di akhir iklan, perempuan itu menunjukkan rahasia menjadi pusat perhatian, yaitu produk shampo jenis terbaru yang ia gunakan.

Sesudah menyaksikan iklan tersebut, Rizka langsung memegang rambutnya. Tidak seperti perempuan cantik di iklan tersebut, rambut Rizka tipis dan dipotong pendek. Rizka kemudian melihat Coco, boneka barbienya. Coco tampak cantik dengan rambutnya yang panjang dan tebal. Rizka ingin sekali mempunyai rambut indah seperti milik Coco dan perempuan di iklan tersebut.

Menjelang siang, kak Citra pulang ke rumah sambil membawa sekantong plastik barang belanjaan. Rizka yang ingin tahu lantas menghampiri kak Citra yang sedang mengeluarkan isi kantong belanjaannya di atas meja makan.

Begitu sampai di depan meja makan, mata Rizka teruju pada sebotol shampo di atas meja. Botol shampo yang sama dengan iklan televisi yang ditonton Rizka tadi. Rupanya kak Citra baru saja membeli produk shampo tersebut.

Belum sempat Rizka menjulurkan tangannya untuk memegang botol shampo tersebut, kak Citra sudah mengangkat botol shampo tersebut dari atas meja dan membawanya ke kamar mandi. Dari balik pintu kamar mandi yang terbuka, Rizka melihat kak Citra meletakan botol shampo tersebut ke dalam rak.

Sejak hari itu, Rizka selalu berkeinginan untuk menggunakan shampo kakaknya itu. Botol shampo itu terasa terus memanggilnya setiap kali ia berada di kamar mandi. Namun, karena diletakkan di rak yang paling tinggi, Rizka tak pernah dapat menjangkaunya.

Di hari Jumat sore, Rizka dengan rasa malas masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya ia masih ingin bermain bersama Coco, tapi hari ini ia harus ikut kedua orang tuanya ke acara perkawinan salah seorang teman Papa di luar kota.

Begitu sampai di kamar mandi, mata Rizka terpaku pada sebuah benda di atas westafel. Ada botol shampo milik Kak Citra di sana. Rupannya karena terburu-buru mengejar jemputan pagi tadi, kak Citra lupa menaruh kembali botol shamponya ke tempat semula.

Tanpa menunggu lama, Rizka langsung membasahi rambutnya dan keramas menggunakan shampo tersebut. Wangi shampo tersebut terasa berbeda dengan wangi strawberry shampo anak yang biasa digunakannya. Rizka sangat menikmati mandinya kali ini. Berkali-kali sudah ia membilas rambutnya lalu mengeramasnya kembali, ia baru berhenti saat terdengar suara Mama yang memanggilnya untuk segera berlekas.

Selesai mandi, Rizka tidak bosan-bosannya memegang rambutnya. Sambil tersenyum, ia membayangkan di pesta perkawinan nanti orang-orang akan memandang dengan kagum rambut indahnya, dan ia akan jadi pusat perhatian di sana.

Beberapa jam di perjalanan, kepala Rizka terasa gatal. Tidak henti-hentinya ia menggaruk kepalanya. Mama yang menyadari ketidaknyamanan Rizka menanyakan apakah ia baik-baik saja. Rizka hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala, ia takut dimarahi oleh kedua orang tuanya.

Sesampainya di tempat perkawinan, rasa gatal di kepala Rizka sudah tidak tertahankan lagi. Perlahan air matanya mulai mengalir. Setelah Papa turun dari mobil, akhirnya Rizka memberanikan diri menceritakan yang sebenarnya kepada Mama.

Ternyata Mama tidak marah. Sambil membelai rambut Rizka dengan sayang, Mama kemudian memberi penjelasan kepada Rizka, bahwa shampo orang dewasa memang diciptakan khusus untuk rambut orang dewasa, sehingga tidak cocok jika digunakan oleh anak kecil. Apalagi dengan penggunaan secara berlebihan. Mama juga meminta maaf karena seharusnya ia ikut menemani Rizka saat menonton tayangan televisi, sehingga bisa memberikan penjelasan akan hal-hal yang tidak Rizka mengerti.

Setelah meminta izin Papa, mereka berdua akhirnya pergi dulu ke mini market untuk membeli shampo anak. Di dalam hatinya, Rizka berjanji untuk tidak pernah lagi menggunakan produk orang dewasa sebelum ia dewasa nanti. Semua sudah disediakan sesuai waktunya bukan?