Jumat, 10 Agustus 2012

Zakia, si Rahma kecil.


Sebentar lagi lebaran tiba, topik obrolan semua orang tidak jauh-jauh dari hari bahagia itu. Termasuk percakapan Zakia dan keempat temannya sepulang dari pengajian tadi sore.

“Iya aku udah dibeliin baju gambar Spiderman sama mamaku!” Bayu yang berbadan gemuk bercerita girang.

“Nanti mamamu masak apa? Mamaku masak opor ayam!” Annisa mengusap-ngusap perutnya. Ah sebentar lagi buka puasa.

“Mamaku Soto Medan!” Seru Seruni. “Kalau mamamu Zakia?" Lanjutnya lagi.
Semua jadi terdiam. Ibu Zakia sudah tidak ada.

---

Sampai di rumah, kolak sebagai hidangan buka puasa sudah tersedia di atas meja. Mbak Inah yang bikin, atau mungkin beli. Zakia mandi lalu kemudian duduk di sofa ruang tengah, menunggu Ayah. 

Bulan puasa kali ini banyak bedanya. Sudah tidak ada lagi masakan lezat Ibu di saat sahur, ataupun berbuka. Digantikan masakan Mbak Inah yang juga lezat, tapi tetap saja rasanya beda. Tidak ada lagi yang menemani Zakia shalat teraweh di shaf belakang. Dulu ia dan Ibu suka pakai mukena kembaran. “Rahma kecil”, begitu orang-orang biasa memanggil Zakia saat membandingkannya dengan ibunya. Mereka berdua memang mirip.

Momen-momen sahur juga terasa lebih sepi. Saat membangunkan Zakia untuk sahur, Ayah cuma bilang “Zakia bangun sahur yuk...”.  Kalau Ibu biasanya membangunkannya dengan cerita-cerita lucu, membuat Zakia melek sepenuhnya karena tertawa tergelak.

Tapi Ramadhan ini Zakia bertekad untuk buka puasa penuh 30 hari. Alhamdulillah belum ada yang batal. Godaan terberat adalah saat ia tiba-tiba ingat Ibu. Untunglah selama ini Zakia berhasil menahan tangisnya, setidaknya sampai waktu buka puasa tiba. Sebentar lagi Azan berkumandang. Terdengar bunyi kunci pintu dibuka. Ayah pulang. Zakia berlari menyambut ayah yang disayanginya itu.

---

Subuhnya, Zakia dan ayah sahur dalam diam. Padahal makanan rendang RM Sederhana yang dibeli Ayah semalam sungguh lezat di lidah. Entah, tapi Zakia kangen indomie, yang dimasak Ibu terburu-buru saat mereka terlambat bangun sahur.

“Ayah, tahun ini kita mudik gak?” Zakia bertanya memecah hening.

Ayahnya berhenti mengunyah. “Kamu mau mudik kemana? Keluarga kita kan semua di sini.” Mereka lalu melanjutkan makan sahurnya kembali.

“Kita boleh mudik ke... kampung ibu?” Zakia bertanya ragu.

Ayah tidak menjawab, sampai makanan di piringnya habis. Minum air putih dua gelas, sambil menunggu Zakia menghabiskan makanannya.

Saat sahur selesai, Ayah mengajak Zakia ke ruang kerja, mengambil sebuah album foto dari dalam laci meja kerjanya. Zakia belum pernah lihat album foto yang itu.

“Sini duduk sini...” Zakia lalu menghambur ke pangkuan ayahnya.

Ayah lalu memperlihatkan foto-fotonya sewaktu muda bersama ibu. Mereka tampak kurus-kurus tenggelam dalam kaos kebesaran.

“Di terminal ini Ayah pertama kali ketemu Ibu. Saat kami sama-sama mau ke Jakarta. Ibu mau liburan, sementara Ayah pulang dari tugas kerja.”

“Terus kenalannya gimana?” Zakia bertanya penuh rasa ingin tahu.

“Yaaa... kenalan aja. Awalnya ibumu takut-takut, tapi jadi mau kenalan karena muka ayah yang malu-malu...”

Hening sejenak, sebelum ayah melanjutkan. “Ayah sudah sayang sama ibumu sejak pertama kali ketemu.”

“Aku juga sayang ibu!” Zakia tidak mau kalah. “Aku juga kangen ibu...” lanjut Zakia lagi dengan nanda suara berbeda.

Ayah mendekap Zakia lembut. “Ayah juga kangen ibu. Kangen itu tanda sayang nak. Kangen boleh, menangis juga boleh nak, tapi kalau sedih jangan.”

“Jadi, kita jadi mudik ya yah?”

Ayahnya mengangguk. Lebaran kali ini mereka akan mudik ke kampung ibunya. Ayahnya dan Zakia, si Rahma kecil.

0 komentar: